Senin, 09 Juli 2012

kesenian khas daerah Lampung


BAB I
PENDAHULUAN



A.  Latar belakang

Kesenian, keindahan, estetika, mewujudkan nilai rasa dalam arti luas dan wajib diwakili dalam kebudayaan lengkap. Kedwisatuan manusia yang terdiri atas budi dan badan tak dapat mengungkapkan pengalamannya secara memadaidengan akal murni saja. Rasa mempunyai kepekaan terhadap kenyataan yang tidak ditemukan oleh akal. Percobaan untuk memahami persoalan hidup manusia dalam segala dimensinya tidak membawa hasil yang memuaskan, selama itu terbatas pada pembentangan konsep-konsep. Kesenian merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal. Kebudayaan merupakan “Keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu”. Itu berarti bahwa kesenian juga merupakan hasil budi dan karya manusia.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kesenian berarti perihal seni atau keindahan. Kesenian berasal dari kata dasar seni. Kata seni merupakan terjemahan dari bahasa asing “Art” (bahasa Inggris) istilah “Art” sendiri sumbernya berpangkal dari bahasa Itali, yaitu “arti”. Perkataan “arti” ini dipergunakan pada zamannya untuk menunjukkan nama sesuatu benda hasil kerajinan manusia pada masa perkembangan kebudayaan eropa klasik, yaitu pada zaman yang dinamakan orang dengan sebutan Renaissance di Italia. Dari “arti” menjadi “art”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi seni. Selalu dihubungkan dengan perasaan keindahan. Aristoteles melihat dalam kesenian  indah suatu perwujudan daya cipta manusia yang spesifik.

       Fungsinya yaitu untuk mengidealisasikan dan menguniversalkan kebenaran, sehingga kebenaran itu menghibur, meriangkan hati dan mencamkan cita-cita mulia lebih dalam daripada keyakinan rasional belaka. Keindahan menegaskan nilai menurut cara khusus.
Yang indah didefinisikan sebagai baik (pulchrum: quodvisum, auditum placet). Banyak kecenderungan insani dapat menerima nilai indah. Sedemikian itu dibedakan dengan seni rupa(plastic arts) sebagai seni lukis, seni pahat, seni bangunan, seni grafis, seni suara, seni tari, seni sastra dan dramatik. Kriteria filsafat untuk apresiasi seni secara umum dirumuskan sebagai kesesuaian setepat mungkin antara unsure ideo-plastik dan fisio-plastik, artinya objek kesenian semakin indah sanggup mengekspresikan secara serupa (fisioplastik) visi atau pemandangan orisinal mengenai suatu nilai (ideoplastik).
Seni adalah sesuatu yang indah yang dihasilkan manusia, penghayatan manusia melalui penglihatan, pendengaran dan perasaan. Seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung jiwa seseorang, dilahirkan dengan perantaraan alat-alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihat (seni lukis) atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).

B.  Pengertian Musik Tradisional
Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan. Tiga komponen yang saling mempengaruhi di antaranya Seniman, musik itu sendiri dan masyarakat penikmatnya. Sedangkan maksudnya untuk memper-satukan persepsi antara pemikiran seniman dan masyarakat tentang usaha bersama dalam mengembangkan dan melestarikan seni musik tradisional.
 Menjadikan musik trasidional sebagai perbendaharaan seni di masyarakat sehingga musik tradisional lebih menyentuh pada sektor komersial umum. Kegiatan ini diharapkan mampu memberi kontribusi bagi peserta juga kepada masyarakat luas.
Istilah Musik berasal dari kata Mousal dari bahasa Yunani, yaitu sembilan dewi yang menguasai seni, seni murni dan seni pengetahuan. Tetapi, umumnya musik selalu dikaitkan dengan sejumlah nada yang terbagi dalam jarak tertentu. Dalam istilah masa kini ada 2 jarak yaitu Diantoni dan Pentagonis. Jarak Pentagonis yaitu : jarak yang memiliki jenis bunyi yang kedengarannya seolah-olah alamiah, maka ia menjadi salah satu ciri khas bunyi instrument tradisional, yang alatnya terbuat dan terbentuk dari bahan yang tersedia di alam sekitarnya, seperti kayu, bambu, logam, tanduk, kulit hewan dan lain sebagainya.


C. Teori Perubahan Kebudayaan dan Perkembangan Musik
Kebudayaan berubah seirama dengan perubahan hidup masyarakat. Perubahan itu berasal dari pengalaman baru, pengetahuan baru, teknologi baru dan akibatnyadalam penyesuaian cara hidup dan kebiasaannya kepada situasi baru . Sikap mental dan nilai budaya turut serta berkembang guna keseimbangan dan integrasi baru. Tidak semua perubahan berarti kemajuan.
Perubahan disertai kritik, konflik dan pembatalan nilai-nilai lama, lalu menyeleweng dari hasil yang telah tercapai, ataupun membawa serta penghalusan  warisan kebudayaan dan peningkatan nilai-nilai. Perubahan yang paling berharga terjadi di dalam masyarakat, di mana ketahanan mental rohani selalu sanggup memperbaharui dirinya oleh daya kritik diri, refleksi dan daya cipta. Autokritik di hadapan nilai-nilai objektif menjamin bahwa perubahan bersifat kemajuan.

Lapangan Autokritik itu diisi baik dengan penemuan baru di dalam kebudayaan sendiri maupun dengan sarana, ajaran dan sikap yang ditemukan dalam kebudayaan lain. Sedemikian itulah kebudayaan berkembang dari dalam dan pengaruh dari luar. Perubahan atau “culture dynamics” tidak selalu difahami atau dijelaskan oleh etnologi gaya lama.
Teori evolusionisme menonjolkan dinamik asli, sedang diffusionisme mengasalkan segala perubahan dari pinjaman-pinjaman Asing. Antropologi budaya belum bebas dari pengaruh diffusionisme. Jikalau Herskovits menulis “the civilizational role of borrowing is fundamental culture contact thus appears as the varitable yeast of history,” maka terlupalah olehnya akan lingkungan kebudayaan sendiri, Di dalam kebudayaan barat timbulah suatu akselerasi perubahan yang menggemparkan dari dalam.
Faktor-faktor kebudayaan membentangkan interaksi dan interplay manusia dan alam yang begitu kompleks itu. Alam sekitar mendorong manusia untuk memperkembangkan daya budinya dengan akibat, bahwa dia sendiri menciptakan alam sekitarnya. Habitat dijadikan ekosistem, bioma dijadikan masyarakat . Masalah itu dirumuskan begini : mengapa manusia menghuni bumi kurang lebih 600.00 tahun lamanya, namun manusia mulai menciptakan kebudayaan kira-kira 5000 tahun yang lalu. Hal ini dikarenakan Identitas dan budi cipta manusia dalam seluruh zaman itu agakny sama, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu diharapkan usaha untuk meneropong factor-faktor kebudayaan. Masalah terjadinya dan berlangsungnya kebudayaan diteliti karena mengandung arti bagi masa depan kebudayaan juga.
Degenerasi disebut sebagai factor yang mengakibatkan suatu taraf  kebudayaan tertentu. Penganut-penganut faham degenerasi memandang kebudayaan purba, yang asli, yang mendahului taraf  kemerosotan kemudian sebagai situasi keselarasan antara manusia dan alam. Dengan terciptanya keselarasan antara manusia dengan alam maka dapat menimbulkan sebuah karya atau daya cipta yang terbuat dari bahan alam yang terdapat di  sekitarnya.
Dalam sejarah kehidupan manusia, musik merupakan bagian yang hidup dan berkembang sejalan dengan perkembangan manusia itu sendiri. Musik oleh manusia dijadikan sebagai media untuk menuturkan sesuatu dari dalam jiwanya yang tidak mampu dibahasakan melalui bahasa konvensional.
Seni musik merupakan bagian dari proses kreatif manusia dalam mengolah bunyi-bunyian yang tercipta oleh alam. Unsur bunyi alam seperti suara unggas, denting kayu, gesekan bambu, rintik hujan dan sebagainya, diolah ke dalam bentuk instrumen musik yang tercipta dari tingkat ketrampilan dan pemahaman seniman tentang keselarasan bunyi instrumen dengan ritme kehidupan alam lingkungan sekitarnya. Asal-usul tentang bunyi instrumen musik menurut para ahli dilahirkan dari segala upaya manusia meniru suara alam. Usaha manusia dalam keadaan seseorang diri terekam dalam kondisi lingkungannya yang diam, sepi dan membungkam. Saat itu manusia merasakan kekosongan batin dan kesendirian dirinya. Suasana ini dapat terjadi ketika berada di kebun malam hari, dalam perjalanan, menghadapi masalah pelik, berada dalam transisi jenjang kehidupan biologis, harga diri yang terluka, kedukaan dan suasana spikologis lainnya. Lahirnya musik tradisional tidak secara spontan. Bunyi-bunyian tercipta dari upaya manusia dalam meniru suara alam, suara bintang, kicauan burung, deru angin dari gesekan yang terjadi dari dalam pohon dan sebagainya. Dengan latar belakang penciptaan yang sama, beberapa alat musik yang tercipta memiliki banyak kesamaan, baik dari bahan, cara pembuatan, bentuk dan cara memainkannya. Kesamaan instrumen yang dihasilkan menunjukkan adanya kontak antar kelompok masyarakat. Perkembangan selanjutnya, manusia melalui musik menggunakan bahan-bahan kayu dan bambu sebagai alat musik. Musik terdapat dalam setiap kebudayaan. Musik pada awalnya juga dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sakral dan upacara-upacara yang berhubungan dengan kepercayaan dan adat. Musik dipergunakan sebagai sarana untuk membangkitkan semangat, menyemarakkan suasana, mengiringi gerak tari dan sebagai media kesurupan (trance).
Di daerah Lampung musik dipergunakan untuk penobatan raja, menyambut tamu kehormatan, acara perkawinan, perayaan kemenangan dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya, seni musik juga berkembang sebagai bentuk seni pertunjukan dengan sasaran hiburan semata-mata.
Sedangkan pemanfaatnya ada yang semata-mata untuk tujuan menghasilkan bunyi-bunyian, sebagai tanda tertentu ataupun sebagai pengiring lagu, syair dan tari. Alat musik  dalam menghasilkan bunyi dipraktekkan dengan ditiup, dipukul, digesek dan dipetik. Di Lampung, musik tradisional juga dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan Arab,India,barat dan Cina . Sebagai contoh, setelah datangnya pengaruh Arab muncul kesenian yang menggunakan rebana dengan menyenandungkan syair-syair keagamaan. Kemudian berkembang musik gambus untuk mengeringi lagu-lagu, tari maupun instrumental. Musik gambus ini selain menggunakan alat musik petik, juga dimainkan alat-alat musik lain seperti gendang  yang merupakan peradaban dari pengaruh India, juga menggunakan biola, terompet dan accordion yang merupakan pengaruh barat, serta tawa-tawa dan seruling dari pengaruh Cina.
Oleh karena itu dalam tulisan ini mencoba memperkenalkan kembali alat-alat musik tradisional Lampung yang masih eksis maupun yang hampir punah untuk dikembangkan kembali serta dihayati karena ini merupakan suatu warisan yang harus tetap dijaga dan dipelihara kelestariannya. yang nantinya bisa bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.


D. Permasalahan
Dari uraian Latar belakang tersebut, penulis merumuskan permasalahan yang ada, yaitu : APA SAJAKAH JENIS ALAT MUSIK  DAERAH  LAMPUNG ?
E.   Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode dan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1.Observasi
Yaitu dengan cara melakukan pengamatan langsung dan mencatat hal-hal yang tekait dengan karya tulis.
2.Pustaka
Yaitu data yang di peroleh dari media Internet, buku tentang alat musik Lampung.


F.    Tujuan Penelitian
Tujuan penulis adalah :
1. Untuk mengetahui jenis alat musik apa saja yang ada di Daerah Lampung.
2. Untuk mengetahui sejarah singkat perkembangan musik Lampung.
3. Untuk mengetahui kondisi atau keadaan musik Lampung.
4. Untuk menambah wawasan  para pembaca tentang jenis alat musik Daerah
     Lampung.
5. Serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Wawasan Seni Budaya.

BABII

PEMBAHASAN

 

 

A.  Kulintang

Kulintang adalah nama alat musik tradisional Lampung yang dipergunakan sebagai pengiring dalam tarian adat. Pada awal perkembangannya sekitar pada abad ke 4 SM musik ini dibuat dari bahan bambu. Akan tetapi sekarang musik kulintang tersebut sudah mempergunakan beberapa alat musik gamolan sebagai penggantinya. Kulintang disebut sebagai musik tradisional bukan saja karena alat-alat musiknya yang masih sederhana, maupun jenis-jenis lagunya, tetapi kulintang merupakan warisan nenek moyang kita.

Musik Kulintang dipakai oleh setiap Suku Lampung. Hanya saja sebutan terhadap musik ini bagi setiap daerah berbeda-beda. Seperti Gamolan di daerah Liwa, Belalau di Kota Agung, Kakhumung di daerah Lampung Utara bagian timur (Sukadana, Gunung Sugih, Labuhan Maringgai, Kota Bumi dan Menggala). Walapu namanya berbeda-beda, tetapi pada dasarnya sama. Persamaan ini terletak pada instrument musik, lagu dan tema lagu serta fungsinya. Musik ini sangat erat hubungannya dengan adat dan Agama (Islam), umumnya monoton dan non-diantonis.

B.  Bangsa lain yang mempengaruhi terciptanya musik Lampung


Sebagaimana sebuah daerah, Lampung memiliki beraneka ragam jenis musik, mulai dari jenis tradisional hingga modern (musik modern yang mengadopsi kebudayaan musik global). Adapun jenis musik yang masih bertahan hingga sekarang adalah Klasik Lampung. Jenis musik ini biasanya diiringi oleh alat musik gambus dan gitar akustik. Jenis musik ini merupakan perpaduan budaya Islam dan budaya asli itu sendiri. Beberapa kegiatan festival diadakan dengan tujuan untuk mengembangkan budaya musik tradisional tanpa harus khawatir akan kehilangan jati diri. Festival Krakatau, contohnya adalah sebuah Festival yang diadakan oleh Pemda Lampung yang bertujuan untuk mengenalkan Lampung kepada dunia luar dan sekaligus menjadi ajang promosi pariwisata.
Alat musik khas Lampung, segera didaftarkan untuk mendapat pengakuan internasional dari United Nations Educational, Scientific, Cultural Organization (UNESCO). Alat musik dari bambu ini juga diupayakan mendapat hak kekayaan intelektual atau Haki dari Kementerian Hukum dan HAM.
Anggota Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kota Bandar Lampung Fajar Ramadhan Muchtar, mengatakan target utama dimunculkannya alat musik gamolan ini untuk mengenalkan ke publik dan mendapat pengakuan dari lembaga internasional.

C.  Seni musik Lampung Pesisir
Seni musik Lampung Pesisir lebih dikenal dengan nama musik Gambus, seperti halnya seni musik Lampung pepadun. Keduanya merupakan seni musik mendominasi kesenian Lampung Saibatin terutama di Daerah Pesisir baik untuk acara seremonial dan upacara Adat. Menurut perkiraan, seni musik Gambus dibawa oleh masyarakat Banten. Sekelompok orang ini adalah seniman musik yang datang ke Lampung untuk menyebarkan Agama Islam untuk pertama kalinya. Seni musik Gambus digunakan sebagai media untuk memudahkan komunikasi dengan penduduk asli agar kesadaran tersendiri untuk memeluk Agama Islam.
Seni musik Gambus dimainkan dalam bentuk orkestra (orkestra gambus). Instrumen pokok yang digunakan satu diantaranya adalah terbang. Pada seni vocal, musik lebih berfungsi rekreatif yaitu menghibur diri, melepas kebosanan hidup, pembangkit semangat dan mungkin sebagai protes mengenai ketidakadilan.

D.  Sejarah Gamolan

Menilik Gamolan sebagai sebuah instrumen musik tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Peradaban Sekala Brak sebagai salah satu produk budaya dari Peradaban Sekala Brak Kuno. Gamolan sebagai sebuah instrumen musik telah menyertai Peradaban Sekala Brak sampai saat ini dalam aspek Seni dan Tradisi.
Gamolan Lampung telah diteliti oleh Prof Margaret J Kartomi dan dicantumkan dalam bukunya “Musical Instruments of Indonesia” yang diterbitkan oleh Indonesian Art Society Association With The Department of Music Monash University, 1985. Prof Margaret J Kartomi adalah seorang Profesor Musik dari Monash University Australia yang telah menggeluti musik Gamolan selama lebih dari 30 tahun, Ia datang ke Lampung Barat pada 1982.
Dalam bukunya Prof Margaret menyebutkan bahwa Gamolan berasal dari Liwa daerah pegunungan dibagian barat Lampung, “A Gamolan origin from Liwa in the montainous nortwest area of Lampung”. Hipotesa yang menyatakan bahwa seperangkat Orkestra Gamelan Jawa adalah berasal dan merupakan pengembangan dan perkembangan dari Gamolan Lampung juga sangat kuat dan mempunyai alur yang jelas. Setidaknya ada tiga hal yang menguatkan hipotesa ini, yang pertama adalah bahwa hal yang relatif sederhana adalah merupakan Peradaban awal dan adalah permulaan dari pengembangan hal yang lebih rumit dan kompleks”.
 Yang kedua secara etimologi dalam konteks nama relatif tidak berubah dari Gamolan [Lampung] menjadi Gamelan [Jawa], yang ketiga Gamolan Lampung dibawa ke Pulau Jawa dan bermetamorfosa sedemikian rupa menjadi seperangkat Orkestra Gamelan Jawa, Gamolan Lampung dibawa kepulau Jawa saat Sriwijaya menguasai Nusantara termasuk Jawa. Gamolan Lampung terpahat dalam relief di Candi Borobudur [Abad ke 8 M].
Candi Borobudur sendiri dibangun oleh Dinasti Syailendra Sriwijaya, sekelompok orang yang membuat Candi Borobudur juga adalah orang Lampung. Sriwijaya sebagai sebuah Kerajaan Maritim terbesar diAsia Tenggara mempunyai perjalanan Sejarah yang panjang dan pertautan yang sangat erat dengan Sekala Brak Kuno.
Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jaya Naga seorang Raja Budhist dari Ranau Sekala Brak, Pendiri Sriwijaya ini dijuluki Syailendravarmsa atau Raja Pegunungan, hal ini didukung oleh pendapat para ahli dan Sejarawan sebagaimana yang diungkapkan oleh Lawrence Palmer Briggs dalam “The Origin of Syailendra Dinasty” Journal of American Oriental Society Vol 70, 1950, Lawrence menyatakan bahwa “Sebelum Tahun 683 Masehi Ibu Negeri Sriwijaya terletak didaerah pegunungan agak jauh dari Palembang, tempat itu dipayungi oleh dua Gunung dan dilatari oleh sebuah Danau. Itulah sebabnya Syailendra dan Keluarganya disebut Raja Pegunungan”, jelas bahwa dua Gunung yang dimaksud oleh Lawrence adalah Gunung Pesagi dan Gunung Seminung, sementara Danau yang dimaksud adalah Danau Ranau.
Setelah perpindahan dari Sekala Brak, Sriwijaya setidaknya tiga kali berpindah Ibu Negeri yaitu Minanga Komering, Palembang dan Darmasraya Jambi, namun demikian para Sejarawan juga ada yang berpendapat bahwa Patthani diselatan Thailand adalah Ibu Negeri Terakhir Sriwijaya. Secara etimologi Gamolan berasal dari kata Gamol yang artinya Gemuruh atau Getar yang berasal dari suara bambu dan menjadi Gamolan yang artinya Bergemuruhan atau Bergetaran, sementara Begamol artinya Berkumpul.
Gamolan pada awalnya merupakan instrumen tunggal yang konon dimainkan dan yang menemani seorang Mekhanai Tuha atau Bujang Lapuk, yang menetak Pekhing Mati Temeggi atau tunggul bambu tua tegak yang sudah lama mati. Gamolan yang merupakan instrumen xilophone yang berasal dari Sekala Brak ini, dideskripsikan oleh Prof Margaret J Kartomi dalam “Musical Instruments of Indonesia”.
Gamolan terdiri dari delapan lempengan bambu dan memiliki kisaran nada lebih dari satu oktaf, lempengan bambu tersebut diikat secara bersambung dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada disetiap lempengan dan disimpul dibagian teratas lempeng. Penyangga yang tergantung bebas diatas wadah kayu memberikan resonansi ketika lempeng bambunya dipukul oleh sepasang tongkat kayu, Gamolan memiliki tangga nada 1 2 3 5 6 7, dua orang pemain duduk dibelakang alat musik ini salah satu dari mereka memimpin [Begamol] memainkan pola pola melodis pada enam lempeng, dan yang satunya [Gelitak] mengikutinya pada dua lempeng sisanya, lempeng lempeng pada Gamolan distem dengan cara menyerut punggung bambu agar berbentuk cekung, Gamolan dimainkan bersama-sama dengan sepasang gong [Tala], drum yang kedua ujungnya bisa dipukul [Gindang] dan sepasang simbal kuningan [Rujih].
Pergeseran istilah instrumen musik ini dari Gamolan menjadi Cetik, konon karena tampilan suara yang dihasilkan oleh Gamolan sehingga akhirnya Gamolan juga dijuluki sebagai Cetik. Namun karena Cetik juga merupakan suatu nama tarian disalah satu Daerah Lampung sehingga pemerintah mengambil jalan tengah bahwa nama Gamolanlah yang pas untuk musik bambu ini,agar tidak menimbulkan perselisihan antar wilayah bagian di Lampung. Pergeseran istilah ini terjadi pada sekitar tahun 2010an, demikianlah penyebutan Gamolan  akhirnya menjadi lumrah dan menjadi sebutan yang umum bagi Gamolan bahkan dalam penulisan sekalipun seperti dalam penulisan Buku Pelajaran Muatan Lokal untuk Provinsi Lampung, namun demikian beberapa Peneliti dari Taman Budaya Provinsi Lampung menyebut instrumen musik ini sebagai Kulintang. Demikianlah dinamika Gamolan dalam istilah dan penyebutan, karenanya Penulis sepakat untuk kembali menyebut Gamolan, bagi instrumen musik ini karena terkait dengan sejarah panjang serta fungsi dan peranan Gamolan dalam tradisi Masyarakat Adat Sekala Brak sebagai origin dari Gamolan Lampung. Belum jelas seperti apa tepatnya informasi yang menyatakan bahwa Way Kanan juga merupakan origin dari Gamolan Pekhing ini, namun sepertinya alasan politis dan kepentingan lebih berperan disini.
Walaupun sebagian besar Etnis Lampung dari berbagai Buway dan Marga dari setiap Konfederasi Adat memiliki Tambo Sejarahnya masing masing dan mengakui bahwa Puyang Ulun Lampung berasal dari dataran tinggi Sekala Brak dikaki Gunung Pesagi. Namun demikian tidak ada “Origin Bersama” dari sebuah Produk Kebudayaan, Keris misalnya walaupun telah menjadi salah satu Produk Kebudayaan besar Nusantara dan telah menjadi Produk Budaya dan Tradisi bukan saja Jawa tapi juga Bali, Sasak, Sunda, Bugis bahkan Melayu namun tidak dapat dipungkiri bahwa Keris adalah produk dari Kebudayaan Jawa yang merupakan daerah originnya. Demikianlah apapun dan bagaimanapun dinamika dari sebuah Kebudayaan, namun Sejarah dan Istilah harus diluruskan karena berkaitan dengan Tradisi, Falsafah dan perjalanan panjang Sejarah dan Peradaban dari sebuah Suku Bangsa.

E.   Instrumen Musik Tradisional Koleksi Musium Lampung
Jenis Aerophone

Instrumen musik Aerophone Koleksi Museum Lampung yang khas adalah seruling/ serdam dan terompet. Kedua alat musik ini dapat disatukan secara tunggal dan orkestra. Sebagai instrumen tunggal, ia lebih berfungsi sebagai pengiring seni Vokal. Dalam orkestra, kedua alat musik ini merupakan bagian dari instrumen untuk upacara adat, keagamaan dan tari-tarian.

1.      Seruling/ Serdam

Seruling/ Serdam adalah sejenis alat musik tiup menyerupai seruling. Musik ini berfungsi untuk mewujudkan perasaan rindu dendam atau cinta kasih dan juga perasaan sedih dikalangan bujang gadis.
Alat musik ini tidak boleh dibunyikan pada tempat dan waktu sembarangan terutama pada waktu musibah atau kematian.
Alat musik ini kadang dipergunakan secara pribadi sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan dalam bentuk bunyi-bunyian/ melantunkan lagu-lagu, kadang juga dipergunakan dalam suatu kelompok musik (misalnya : musik Gambus, Melayu, Rebana/ Qosidah, Hadrah dan lain-lain).
Asal-usul suling secara pasti tidak diketahui, namun ada sebuah indikasi bahwa untuk membuat suling disebut bambu cina, dari sini dapat dijadikan acuan, kemungkinan alat musik ini ada di Daerah Lampung dibawa oleh para pedagang Cina yang memang sudah mengadakan hubngan dagang dengan masyarakat Lampung sejak awal abad Masehi. Serdam terbuat dari bambu yang panjangnya kurang lebih 50cm.

Konstruksinya seperti seruling dengan jumlah lubang nada  5 yaitu :
1.      Lubang untuk meniup
2.      Lubang nada ( 3 lubang )
3.      Lubang interval ( lesoknya di bawah )

Teknik pembuatannya harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu :           
1.      Rumpun bambu harus tumbuh dekat air yang mengalir, sampai beberapa pucuk bambu tersebut ada yang mengenai air.
2.      Ambil tujuh batang bambu yang pucuknya menyentuh air dan setiap batang diambil satu ruas yang terbaik.
3.      Ketujuh ruas pilihan tadi dihanyutkan bersama-sama di tenga-tengah arus air dan yang paling dahulu hanyut itulah yang diambil.
4.      Pembuatan lubang harus dilakukan pada malam jum’at dan harus menunggu elang berbunyi.
5.      Seusai dilubangi,serdam itu diletakan di atas makam bujang gadis selama tujuh hari tujuh malam.   


2.      Terompet
Terompet adalah alat musik tiup terbuat dari kayu dan kuningan. Terdiri dari corong (dari kuningan) bagian tangkainya kayu bulat bagian dalamnya berlubang (seperti suling) dan bagian ujungnya untuk meniup (tempat mulut) terbuat dari tempurung kelapa.


Cara menggunakannya : mulut ditempelkan pada tempurung, jari-jari dimainkan pada permukaan terompet yang ada lubangnya sesuai nada yang dikehendaki. Alat music ini pada umumnya dipergunakan oleh masyarakat Lampung bersama dengan gendang dan gong/gender untuk mengiringi tarian pencak silat, alat ini diperkirakan berasal dari Jawa.

Jenis Chardophone

Instrument musik Chardopohne yang berdawai berupa gambus. Gambus yang dimainkan tunggal diiringi syair rakyat Lampung yang mengungkapkan nasehat dan keagamaan. Gambus adalah salah satu alat musil petik, bentuknya sepeti mandolin senarnya berjumlah tujuh buah. Alat musik ini merupakan salah satu bagian dari unit musik gambus. Gambus yang terbuat dari kayu dan kulit binatang (kambing). Cara membuatnya sepotong kayu ( sesuai dengan yang dikehendaki ) dibentuk sedemikian rupa.
Pada bagian tertentu dibuat rongga, dan kemudian ditutup dengan kulit binatang( kambing ), pada bagian atas dibuat lubang untuk tempat mengait atau menyetel senar, begitu juga dengan bagian permukaan kulit diberi potongan kayu.

Asal-usul alat musik gambus diperkirakan daerah assyira, yang kemudian berkembang ke Wilayah Asia Tengara. Alat musik ini masuk Daerah Lampung diperkirakan dibawa oleh orang-orang dari Daerah Banten yang menyebarkan agama Islam di Daerah Lampung. Sedangkan bentuk gambus yang sekarang banyak kita jumpai dimungkinkan sudah merupakan perpaduan (akulturasi) dari Persia, Mandola dari Arab serta Vehuela dari Spanyol.

1.      Gambus Lunik atau Gambus anak buha
            Gambus Lunik adalah alat musik yang terbuat dari kayu (baiknya kayu nangka)dan kulit, berdawai, bersenar. Alat musik ini mengiringi lagu-lagu, baik berfungsi sebagai hiburan atau sebagai musik  pengiring tari. Keberadaan alat musik gambus adalah salah satu yang menarik dicermati, menurut para ahli, seperti Kurt Sachs, Hornbostel, Kunst, Farmer dan lain-lain, setelah mengadakan perbandingan-perbandingan dalam penelitian etnomusikologis meliputi wilayah Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Indonesia, berpendapat bahwa instrumen gambus tersebut berasal dari Arabia.
            Masuknya musik dan alat musik gambus ke daerah-daerah di Indonesia, bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke daerah yang bersangkutan, sehingga warna musiknya pun bernafaskan Islam dengan syair berbahasa Arab.
Dalam perkembangannya, musik gambus juga diperkaya dengan syair berbahasa Melayu dan India di samping juga membawakan lagu-lagu daerah dengan berbagai ragam variasi dalam jumlah kelengkapan alat musiknya. Akhimya, tidak jarang kita menemukan di pelosok-pelosok, sebuah orkes kecil mempergunakan instrumen bernama gambus, atau tiruan dari gambus dengan lagu-lagu dalam bahasa daerah. Apa yang dimaksud dengan musik gambus bagi masyarakat Lampung Pesisir adalah seperti nyanyian solo dengan iringan instrument yang disebut oleh ulun lampung adalah gambus balak ( besar), ada beberapa istilah ulun lampung untuk menyebut bagian-bagian gambus, seperti hulu atau kepala untuk menyebut head pegs, cuping atau kuping untuk menyebut bagian pegs, galah atau leher untuk menyebut bagian neck, betong atau perut untuk menyebut bagian tabung resonator, dan putt untuk menyebut bagian capping strip. Dalam sebuah lagu, umumnya si pemain gambus merangkap sebagai penyanyi.
Lagu atau nyanyian dengan iringan gambus lampung semacam ini disebut dengan “ peting gambus tunggal ” atau gambus klasik. Sedikitnya ada dua macam bentuk kresi dalam musik gambus yang dimaksud, yaitu pertama, penambahan instrument lain seperti rebana ataupun biola, kedua, penggabungan gambus dengan instrument combo band dan ketipung yang memainkan irama dangdut ataupun orkes melayu. Keberadaan dan perkembanganya di daerah Lampung bertumbuh subur pada masyarakat Peminggir yang melingkupi kabupaten Lampung barat, Lampung Selatan, Tanggamus, Pesawaran dan sekitarnya. Terbukti banyaknya kesenian dan lomba lomba gambus pada perhelatan festival ataupun event lainnya, sekitar tahun 90-an masyarakat Lampung Barat khusunya masyarakat liwa, batu brak, belalau, krui terdapat banyak group orkes gambus dari tiap pekonnya walau kini sulit dijumpai. Pada tahun 2006 masih dapat disaksikan lomba orkes gambus antar kecamatan pada event Festival Teluk Stabas Lampung Barat, namun mulai tahun 2007 hingga penyelenggaraan tahun lalu perlombaan tersebut sudah tidak ada lagi.


Jenis Idiophone

Instrumen musik Idiophone yang terbuat dari bahan kayu/bambu, logam campuran dan  perunggu adalah Gamolan, Ghujih, Talo balak,Bended dan Canang. Gamolan Alat musik pukul terbuat dari bambu, berbentuk persegi panjang. Berjumlah enam buah dengan ukuran dari kecil membesar, disusun dalam satu wadah kayu.
Cara menggunakannya dipukul dengan stik kayu (tak ada ketentuan yang pasti). Alat musik ini biasanya dipergunakan secara pribadi sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan dalam bentuk bunyi-bunyian dengan lagu-lagu. Keberadaan alat musik ini di Daerah Lampung diperkirakan pengaruh dari luar.

Instrumen musik yang terbuat dari bahan logam (metalophone) berupa :

1.      Ghujih
Ghunjih adalah alat musik pukul terbuat dari perunggu (kuningan, tembaga dan besi).
Bentuknya bulat, bagian tengahnya luar ada yang menonjol ke luar ditengahnya terdapat lubang tempat mengaitkan tali untuk pegangan. Ghujih terdiri dari dua buah cara menggunakannya dengan cara memukulkan yang satu dengan yang lain. Ghujih merupakan salah satu bagian dari unit musik kulintang. Dalam fungsi instrumen ghujih berfungsi sebagai pemangku irama yang menguatkan irama musik kulintang. Adapun asal usul jenis alat musik ini secara pasti belum dketahui diperkurakan berasal dari jawa (kecrek/keprak).


2.      Gung/Talo Balak
Gung/ Talo Balak adalah alat musik pukul yang terbuat dari logam campuran (kuningan, tembaga dan besi). Gung merupakan salah satu bagian dari unit musik kulintang /kelintang.
Gung yang terdapat di daerah lampung tak ada bedanya dangan gong di daerah lain di indonesia, kemungkinan yang berbeda adalah ukurannya.
Cara penggunaannya, gung digantung pada tiang gantungan terbuat dari kayu biasanya diberi hiasan ukir-ukiran, posisi bagian yang dipukul saling berhadapan (dua buah) yang satu lebih besar dari yang lain. Fungsi gung dalam musik kulintang adalah sebagai finalis. Asal-usul gung secara pasti belum diketahui, diperkirakan berasal dari jawa.


  1. Bende
Bende adalah alat musik pukul terbuat dari logam campuran (kuningan, tembaga dan besi). Bentuknya seperti gung hanya ukurannya lebih kecil. Bende digantung pada kayu (Lpg:Atcak) seperti gung dan merupakan salah satu bagian dari unit musik kulintang. Dalam fungsi instrumen, bende adalah pemangku irama.
Keberadaan alat musik ini di Daerah Lampung secara pasti tidak ketahui, sebagai perangkat musik kulintang yang lain, kemungkinan juga didatangkan dari daerah lain (dari Jawa).


  1. Petuk / Canang
Petuk/Canang adalah alat musik pukul yang terbuat dari logam campuran (kuningan, tembaga dan besi). Bentuknya seperti kulintang. Petuk/Canang terdiri dari 3 buah disusun dalam wadahkayu (biasanya dihias dengan ukiran). Petuk/Canang merupakan salah satu bagian dari unit musik kulintang. Dalam fungsi instrumen petuk/canang adalah sebagai pemangku irama.
Keberadaan alat musik ini di Daerah Lampung secara pasti tidak diketahui. Kemungkinan juga didatangkan dari daerah luar Lampung (dari Jawa).



Jenis Membranophone

Instrumen musik Membranophone yang menghasilkan bunyi musik dari selaput yang bergetar adalah :
  1. Terbang/rebana

Terbang adalah alat musik tabuh yang terbuat dari kayu bulat, bagian bawah mengecil pada bagian dalam berlubang, permukaan yang lebar ditutup dengan kulit binatang yang dijalin dengan rotan, bagian luar terdapat pasak kayu yang berfungsi untuk mengencangkan kulit terbang.
Terbang merupakan bagian musik gambus biasanya terdiri dari 2 buah yang satu lebih besar dari yang lain. Keberadaan musik ini di daerah lampung berhubungan erat dengan pengaruh kebudayaan Islam, ada kemungkinan juga pengaruh dari India

  1. Gendang/Gender
Gendang/Gender adalah sejenis alat musik pukul, terbuat dari bahan bulat (yang mempunyai bentuk dari besar mengecil), dilubangi bagian tengahnya kemudian kedua sisi yang berlubang ditutup dengan kulit binatang (kambing, menjangan atau sapi) dikait dengan rotan. Pada bagian permukaan kayu juga berfungsi mengencangkan kulit untuk menyetel suara. Cara memainkan gendang dipukul dengan tangan, dengan posisi permukaan yang kecil berada di sebelah kanan dan yang lebar berada di sebelah kiri. Gendang adalah alat musik yang dimainkan bersama-sama dengan kulintang atau dengan dua buah gong untuk mengiringi pencak silat. Dalam instrument musik kulintang gendang berfungsi sebagai pamurba/pemimpin irama. Gendang diperkirakan dari Daerah lain yaitu berasal dari Jawa.
Alat-alat musik tradisional Lampung telah menjadi salah satu ciri identitas etnis Lampung. Penetapan alat musik tradisional dimulai dari keputusan musyawarah bersama antara, masyarakat Lampung, tetua adat, dan para budayawan Lampung. Instrumen musik tradisional Lampung harus berkembang dan dilestarikan sebagai simbol kebesaran etnis Lampung yang kaya akan kreasi seni musik dan kehidupan kesenian masyarakat Lampung.


3.      Sekhdap dan bekhdah
Yaitu alat musik yang hampir sama seperti terbangan, namun dalam bentuk yang besar (garis tengah berukuran 40 cm s/d 100 cm).
BAB III
PENUTUP



A.  Kesimpulan
            Dari informasi yang telah saya peroleh, saya dapat menyimpulkan bahwa kumpulan alat musik warisan budaya merupakan bukti material manusia, alam dan lingkungannya yang bernilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Kumpulan instrument musik tradisional sebagai bagian dari koleksi Museum Lampung merupakan benda budaya sebagai bukti eksistensi kehidupan kesenian terutama seni musik di Daerah Lampung.
            Demikian penelitian ini dibuat semoga dapat memberikan hasil yang baik dan bermanfaat bagi pengembangan informasi tentang seluruh aspek seni musik tradisional Lampung.

B.  Saran
Dengan ditulisnya makalah yang menjelaskan tentang jenis alat musik daerah Lampung ini, semoga kita semua bisa benar-benar memahami tentang apa yang seharusnya kita lakukan sebagai masyarakat Lampung. Sehingga, jika ada jenis alat musik yang belum kita ketahui dapat kita pelajari lebih dalam lagi. Begitu juga sebaliknya, jika ada  jenis alat musik yang telah kita ketahui hendaknya sebagai masyarakat Lampung sekaligus generasi penerus, sudah  sepatutnya kita menjalankan kewajiban kita untuk melestarikannya dengan cara menyalurkan ilmu yang telah kita dapat ke pada generasi selanjutnya. Dengan demikian, daerah Lampung akan maju dan semua musik Lampung dapat terjaga kelestariannya .

DAFTAR PUSTAKA



ST. Vembriarto, Instrumen Musik Tradisional Lampung Koleksi Musium Lampung, Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1982.
SJ. Bakker J.W.M., Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Kansius, 1984